Korelasi Pengalaman dan Pengetahuan Bagi Penerjemah Tersumpah

jasa penerjemah tersumpah

Kendati memang benar bahwa “pengalaman” adalah guru yang terbaik, pengalaman muncul dalam banyak bentuk dan ukuran, termasuk menebak-nebak sembarangan atau ilmiah saat berhadapan dengan masalah yang kelihatannya tak terpecahkan, pengalaman dengan bermacam-macam kasus dalam waktu lama, yang umumnya kita sebut dengan “pengalaman praktis” (induksi), dan pembelajaran atau pengajaran teoritis yang dilandaskan pada hukum-hukum dan prinsip-prinsip umum (deduksi).

Pengalaman apa?

Pengalaman hidup tentu saja merupakan hal yang penting bagi manusia. Tanpa mengalami berbicara dengan orang lain, kita tidak akan pernah dapat mempelajari bahasa. Tanpa mengalami interaksi dengan orang lain, kita tidak akan pernah dapat mempelajari norma perilaku masyarakat. Tanpa pengalaman dari teks tertulis dan media visual, kita tidak akan pernah belajar mengenai dunia di luar lingkungan kita.

Tanpa pengalaman hidup — jika hal seperti ini memang ada, kita tidak akan pernah mempelajari apa-apa. Pengalaman hidup merupakan bagian yang mendasar dan berkelanjutan dari keberadaan kita di dunia ini. Tanpa pengalaman hidup, keberadaan kita nyaris tidak menda pat pengakuan.

Maka, permasalahan sesungguhnya bukanlah apakah pengalaman hidup memang penting sekali bagi pekerjaan penerjemah, tetapi pengalaman apa yang diperlukan untuk bekerja sebagai penerjemah dan sebagai pengelola jasa penerjemah tersumpah.

Apakah cukup hanya dengan memiliki pengalaman luas dan mendalam dengan satu bahasa asing atau lebih? Jika ya, cukupkah hanya dengan mempelajari bahasa (atau bahasa-bahasa) tersebut dari buku dan sekolah, atau pentingkah untuk merasakan secara langsung kebudayaan (atau kebudayaan-kebudayaan) yang mempergunakan bahasa tersebut sebagai bahasa ibu?

Seberapa pentingnyakah aneka ragam pengalaman akan bahasa(-bahasa) ibu orang lain? Dan sampai sejauh mana ragam jenisnya? Pentingkah untuk menjalin hubungan dengan ma syarakat yang mempergunakan bahasa itu di berbagai ka wasan, kelas sosial, dan pekerjaan? Atau sudah cukupkah hanya dengan mempelajarinya secara luas dan cermat?

Kemungkinan lain, sudah memadaikah pengalaman luas akan suatu materi, jika pengalaman penerjemah dengan sedikitnya satu bahasa asing baru sebatas pengalaman dasar? Jika demikian, apakah pengalaman itu harus berupa pengalaman praktis (hands-on) dalam bidang

tersebut, pengalaman dengan objek dan orang-orang yang menanganinya serta cara mereka membicarakan objek itu? Atau cukupkah hanya dengan memperoleh pengalaman dari buku, artikel, dan tugas-tugas perkuliahan tentang materi tersebut?

Kondisi ekstrem yang dapat membuat penerjemah profesional merasa tidak tenang adalah cukupkah, dalam hal-hal tertentu, bagi penerjemah hanya dengan memiliki pengalaman sekilas dan dangkal akan suatu materi dan bahasa asing, tetapi kaya pengalaman dengan berbagai kamus? Atau, dengan contoh lain yang kurang ekstrem, hanya dengan mendengarkan sedikit bahasa Italia dan sebuah kamus bahasa Italia yang bagus, sudah memadai kah bagi seorang penerjemah profesional yang cakap dari Spanyol dan Portugis untuk menerjemahkan teks berbahasa Italia yang cukup mudah dan familiar?

Satu jawaban untuk semua pertanyaan tadi adalah “Ya, dalam kasus-kasus tertentu”. Pengetahuan dasar yang kuat dari pengalaman dengan suatu bahasa bisa mem bantu Anda menyelesaikan teks sulit dalam suatu bidang khusus, walaupun Anda tidak banyak atau tidak berpengalaman sama sekali dengan materi terjemahannya.

Pengalaman bekerja di biro Jasa penerjemah 

Terkadang pengetahuan dasar yang kuat dan layak dari pengalaman dengan suatu materi, bisa membantu Anda menyelesaikan sebuah teks sulit dalam bidang itu yang ditulis dalam bahasa asing yang jarang Anda hadapi. Kadang-kadang, pengetahuan akan bahasa-bahasa serupa dan se buah kamus saja bisa menolong Anda merampungkan se buah teks yang cukup mudah sehingga Anda hampir-hampir tidak perlu membacanya sama sekali.

Walaupun kecakapan untuk mengimbangi kelemahan di beberapa bidang dengan memperkuat bidang lain meru pakan sebuah tindak profesional, tetapi mengedepankan persoalan dengan cara ini pada akhirnya bisa menyesatkan.

Kendati dalam kasus tertentu, pengalaman jenis ter tentu atau dalam tingkat tertentu bisa dikatakan “cukup” atau “perlu”, beberapa penerjemah memiliki kegemaran untuk mengetahui lebih dulu apa saja yang diperlukan untuk mengerjakan pekerjaan yang sebentar lagi akan di hadapi.

Dengan demikian, pedoman bagi penerjemah dalam merangkai pengalaman hidup tidaklah sebatas yang disebut “cukup” atau “penting” untuk pekerjaan menerjemah tertentu saja, karena mengumpulkan pengalaman hidup berarti betul-betul mengalami segala hal sebanyak banyaknya. Semakin banyak pengalaman hidupnya, semakin baik; semakin banyak bidang yang dipelajari, juga semakin baik.