Definisi Pasar Duopoli
Duo artinya dua atau 1 pasang. Sesuai dengan keberadaan kata duo didalam pasar duopoli. Pasar duopoli dapat disimpulkan sebagai pasar di mana terdapat 2 produsen (perusahaan) yang menguasai sebuah barang atau jasa pada pasar tersebut. Karena pada pasar tersebut hanya terdiri dari 2 produsen, maka setiap tindakan yang dijalankan oleh salah satu produsen akan berpengaruh terhadap produsen lainnya. Hal ini terjadi dalam bermacam hal, misalnya kapasitas produk, kualitas produk, pemasaran dan lainnya. Pasar duopoli bisa dianggap sebagai bentuk pasar oligopoli yang paling sederhana. Salah satu contoh pasar duopoli adalah penawaran minyak pelumas yang dikuasai oleh Pertamina dan Caltex.
Dari definisi di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa ciri-ciri pasar duopoli adalah sebagai berikut:
· Dikuasai oleh 2 produsen atau penjual dan banyak pembeli
· Harga ditentukan secara sepihak oleh ke-2 penjual baik dengan kesepakatan atau tidak
· Price leadership oleh 2 perusahaan besar yang mana perusahaan kecil hanya jadi pengikut
· Ketergantungan antar 2 perusahaan cukup tinggi
· Sulit untuk perusahaan baru masuk ke dalam pasar
Jenis Pasar Duopoli

Pasar duopoli bisa dibagi menjadi 2 tergantung pada jenis produk yang dihasilkannya. Kedua jenis tersebut adalah pure duopoly dan differentiated duopoly. Apabila produk atau jasa yang dihasilkan berbentuk homogen (sama), maka pasar tersebut dinamakan duopoli murni atau (pure duopoly). Apabila produk atau jasa yang dihasilkan tidak homogen tetapi substitusi (dapat ditukar satu dengan yang lainnya), maka pasar tersebut dalam kondisi duopoli terbedakan (differentiated duopoly).
Kelebihan dan Kekurangan Pasar Duopoli
Pasar duopoli mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya:
· Efisiensi yang lebih tinggi karena jumlah perusahaan sedikit
· Konsumen diuntungkan dari kompetisi antar perusahaan di sisi harga
· Mengurangi kompetisi yang tidak bermanfaat.
Selain kelebihan tersebut, juga terdapat kekurangan yaitu:
· Sulit untuk perusahaan baru masuk ke dalam pasar
· Sulit berkompetisi
· Memiliki kemungkinan besar kolusi
· Bila satu perusahaan ingin menjalankan sebuah kebijakan tertentu, akan sangat susah (hampir tidak mungkin) bagi perusahaan tersebut untuk meramalkan tindakan yang bakal diambil saingannya. Oleh karena itu, masing-masing perusahaan harus selalu menyimak tingkah laku saingannya.
Teori Pasar Duopoli
Teori pasar duopoli untuk pertama kalinya dikemukakan oleh Antonia Augustin Cournot pada tahun 1838 dengan judul “Researches into the Mathematical Principles of the Theory of Wealth”. Kemudian teori Cournot ini dilengkapi oleh Betran-Edgeworth.
Pada teori pasar duopoli, produsen yang menjual produk sebatas dua, perusahaan A dan perusahaan B. Jika berpikiran barang yang dijual berbentuk homogen, maka cocok dengan definisi di atas, kebijakan yang diambil oleh perusahaan A bakal berpengaruh terhadap perusahaan B, begitu pula sebaliknya.
Oleh karena itu, baik pebisnis A maupun pebisnis B perlu waspada dalam memilih kebijakan yang bakal diambil, terutama dalam hal memilih harga penjualan dan kapasitas produksi.
1. Teori Pasar Duopoli Cournot
Dalam teori Cournot, dua produsen dianggap menghasilkan barang yang berbentuk homogen. Asumsi pokok yang dipergunakan oleh Cournot adalah pada waktu seorang pebisnis duopoli berusaha memaksimumkan keuntungannya, jumlah produk yang dihasilkan oleh pesaingnya tidak tergantung dari jumlah barang yang dihasilkan oleh pebisnis yang pertama.
Pada jenis ini, fungsi permohonan pasar adalah:
Py = f (YA + YB) yang mana,
Py = Harga barang homogen yang dijual
YA = Jumlah barang yang dihasilkan oleh pebisnis duopoli A
YB = Jumlah barang yang dihasilkan oleh pebisnis duopoli B
Sedangkan keuntungan dari masing-masing pebisnis duopoli itu adalah:
πA = YA . Py – CA(YA)
πB = YB . Py – CB(YB) yang mana,
CA(YA) = Biaya pebisnis A didalam menghasilkan YA
CB(YB) = Biaya pebisnis B didalam menghasilkan YB
2. Teori Kinked Demand Curve (Kurva Permintaan yang Patah)
Teori ke-2 adalah teori kurva permohonan yang patah. Asumsi yang dibutuhkan untuk kurva ini adalah:
· Harga pasar yang memuaskan bagi ke-2 pebisnis duopoli itu sudah terbentuk, misalnya PY rupiah.
· Jika salah satu dari produsen dalam pasar duopoly turunkan harga penjualannya (lebih rendah dari harga keseimbangan PY diatas), maka pebisnis saingannya yang sadar tindakan tersebut, juga bakal menurunkan harga penjualannya (kalau perlu lebih rendah lagi) supaya ia tidak kehilangan pembeli, sampai berjalan kompetisi harga yang bisa menghancurkan ke-2 perusahaan duopoli itu.
· Jika salah satu dari pebisnis duopoli meningkatkan harga penjualannya, tindakannya itu tidak bakal diikuti oleh pebisnis saingannya. Akibatnya beberapa atau seluruh konsumen ganti kepada pebisnis yang tidak turut meningkatkan harga itu.
Dari asumsi di atas, maka akan terbentuk kurva permohonan yang patah dikarenakan kondisi di atas menyebabkan harga pada pasar duopoli tidak mudah berubah.

PY = Harga yang terbentuk untuk setiap satuan product (Rupiah)
Y1 = Kapasitas memproses yang dijalankan terhadap harga PY
D = Titik keseimbangan harga dan kapasitas produksi
Menurut asumsi di atas, jika sebuah perusahaan menurunkan harga penjualan lebih rendah dari PY, maka pebisnis lain bakal mengikuti. Tujuannya supaya mereka tidak kehilangan pembeli.
Berdasarkan asumsi ini, kurva permintaan bagi pengusaha yang menurunkan harga adalah kurva DE. Dimana elastisitas permohonan kurva DE serupa dengan elastisitas permohonan pasar dikarenakan tindakannya menurunkan harga diikuti oleh pebisnis saingannya yang satu lagi.
Sebaliknya, jika sebuah perusahaan meningkatkan harga penjualan lebih tinggi dari PY, maka pebisnis lain bakal mengikuti dan kurva permohonan pada harga yang lebih tinggi adalah kurva DF yang punya elastisitas serupa dengan elastisitas permohonan pasar. Tetapi, asumsi di atas membuktikan bahwa kenaikkan harga tidak diikuti oleh pesaingnya, maka kurva permohonan bukan kembali DF, melainkan DC. Kurva ini punya elastisitas permohonan yang lebih besar dari elastisitas permohonan pasar.
Patahnya kurva permohonan bagi suatu pebisnis duopoli adalah dikarenakan tindakannya meningkatkan harga tidak diikuti oleh pebisnis saingannya. Dengan patahnya kurva permohonan bagi suatu pebisnis duopoli, kurva nilai produk marjinalnya (MR) bagi pebisnis berikut adalah CABG.
Pada peningkatan harga, kurva permohonan perusahaan bukan PYD dikarenakan tidak seluruh perusahaan bakal lenyap pembelinya. Hal ini dikarenakan masih ada beberapa pembeli yang tinggal yang tidak mengetahui bahwa perusahaan saingan tidak meningkatkan harga.
Alasan ke-2 yang mungkin terjadi adalah ciri-ciri homogen produk yang dijual, yang mengakibatkan konsumen selalu membeli kepada pebisnis yang meningkatkan harga. Inilah sebabnya kenapa kurva permintaannya tidak jadi PYD melainkan DC.